Kamis, 03 November 2011

Penerapan disiplin

D
isiplin. Satu kata yang terkesan dingin, kaku dan tidak menyenangkan. Sebenarnya, apa arti  kata “disiplin” ? Menurut Longman Dictionary of Contemporary English kata ‘disciplin’ artinya adalah suatu cara melatih diri atau pikiran dalam melakukan apa yang seharusnya dilakukan. Cukup sederhana dan luwes  kedengarannya, namun dalam sebuah lingkungan pendidikan remaja, penerapannya memerlukan kerja keras dari semua  pihak. Penerapan disiplin adalah hal yang sangat penting karena memberikan efek langsung pada pembentukan pola hidup. Disiplin sebenarnya berkaitan erat dengan budaya suatu bangsa. Bangsa-bangsa yang berbudaya tinggi bisanya menerapkan disiplin sejak anak-anak mereka masih bayi. Untuk sebuah lingkungan yang menerapkan disiplin sejak usia dini,  keberhasilannya tentu  lebih dimungkinkan. Pekerjaan atau upaya yang harus dilakukann pun akan jauh lebih sederhana.  Dengan menggunakan pembiasaan-pembiasaan yang positif, perkembangan perilaku disiplin seorang anak  balita akan terlihat lebih baik dan wajar . Ia akan menjadi orang yang teratur dan rapi dalam melakukan segala sesuatu karena  semuanya sudah dibisakan sejak awal. Karena itu anak tersebut akan terlihat lebih gembira dan mampu melakukan pekerjaannya  sesuai dengan yang seharusnya ia lakukan tanpa terlalu terbebani. Meletakkan segala sesuatu pada tempat dan proporsi yang benar bukan suatu masalah baginya dan besar kemungkinan keteraturan ini akan terbawa sampai dia dewasa.

Lain halnya dengan pendidikan disiplin yang baru dimulai ketika seorang anak sudah menginjak usia remaja. Kita ambil contoh saja penerapan disiplin di SMA Lazuardi Global Islamic School (Berasrama)

SMA Lazuardi GIS  menerima  sekian banyak murid yang berasal dari berbagai latar belakang. Ada anak-anak yang berangkat dari keluarga yang sudah terbiasa berdisiplin dan ada pula, biasanya inilah yang paling banyak di jaman sekarang, yang tidak memiliki kemandirian atau bahkan tak mampu sama sekali mengurus dirinnya sendiri. Segala sesuatunya serba berantakan. Mulai dari bangun pagi, solat, merapikan kamar dan bahkan mengamankan barang miliknya sendiri pun tak terbiasa. Yang beginilah yang biasanya  akan menjadi tugas berat seorang pembina asrama.  

Karenanya, beberapa faktor yang dapat dijadikan kunci keberhasilan penerapan disiplin baik di sekolah maupun di asrama memang harus diperhatikan benar, supaya apa yang sudah kita rencanakan bisa terwujud. Misalnya, Sebelum Melaksanakan Tata Disiplin Sekolah, kita harus mensosialisasikannya terlebih dahulu di hadapan semua murid baru. Di sinilah kita harus menunjukkan  apa yang mendasari dibuatnya tiap butir aturan. Penting juga disampaikan kesan bahwa aturan dibuat untuk kepentingan pihak anak didik. Bukan untuk guru-guru atau bukan juga sekadar instruyen pelengkap yang biasanya ada pada setiap sekolah.
Poin penting sebelum mengaplikasikan Tata Disiplin Sekolah adalah adanya kesepakatan yang ditandatangani orangtua bahwa mereka harus mau dilibatkan dalam urusan pendidikan anak-anaknya.
Selain orangtua, kakak kelas dan murid-murid tertentu harus juga diminta ikut membantu para guru  dalam penegakan disiplin ini.
Setelah itu, kita memulai pengaplikasian disiplin ini dengan  pembiasaan-pembiasaan yang baik. Seorang anak yang sudah terbiasa mencium bau kamar mandi yang  kotor,  lama kelamaan  tidak akan merasa aneh lagi bahwa WC adalah tempat yang kotor. Padahal, seharusnya fungsi kamar mandi adalah sebagai tempat bersuci dan membersihkan tubuh.

Contoh yang baik dari orang-orang yang lebih tua di lingkungan pendidikan merupakan hal penting yang bisa menjadi kunci sukses juga. Guru atau pembina hádala cermin bagi mereka. Pihak menejemen sekolah harus mempersiapkan tata disiplin untuk para guru dan karyawan. Misalnya jam kerja, jam istirahat, masalah perijinan dan lain-lain. Absensi dan jam kehadiran serta kepulangan mereka harus menjadi perhatian penting. Artinya jika seorang guru sering melakukan tindak indisipliner, misalnya terlambat datang ke sekolah atau ke kelas dan dilihat  oleh siswanya maka siswa akan melakukan perbuatan yang lebih parah lagi. Selain itu akan timbul ketidakpercayaan anak pada gurunya. Guru yang tidak berdisiplin juga akan kehilangan wibawa di hadapan siswa. Kebiasaan  tidak masuk kerja tanpa alasan yang jelas tidak boleh ditolerir sama sekali.  Maka bisa kita simpulkan sementara bahwa kalau kita menghendaki pendidikan yang baik tertib dan berhasil para guru pun harus berjalan di atas aturan atau tata tertib  yang sudah dibuat dan disepakati.

Berbicara tentang Guru, sikap konsisten atau istiqomah sangat pelu dimiliki oleh para penegak disiplin. Bersikap konsisten memerlukan perjuangan yang cukup tangguh. Karena, orang kerap merasa malas menegakkan aturan ,khususnya kalau menyangkut hal-hal yang kelihatannya sepele atau remeh. Padahal, dari hal-hal sepele inilah kadang-kadang muncul keinginan atau peluang untuk melakukan pelanggaran yang lebih besar. Maka, para pendidik harus berusaha untuk tetap pada pendirian atau berpegang pada aturan yang ada.

6.Kebijaksanaan
Memang ada kalanya kita harus mengambil sikap yang lain dari yang sudah digariskan dalam peraturan. Inilah yang disebut kebijaksanaan, suatu sikap yang harus diambil secara sangat hati-hati sehingga tidak memberikan kesan  adanya standar ganda atau  mengendornya pelaksanaan aturan. Karena itu, ketika kita harus mengambil suatu kebijaksanaan lain, sebaiknya disampaikan kepada para siswa dasar-dasar pemikirannya secara jelas.

7.Kerjasama
Yang tak kalah pentingnya adalah kerjasama dengan orangtua/wali. Jika kita ingin  semua hal di atas dapat terealisir dengan baik, maka orangtua/wali murid harus terlibat dan sepakat dengan aturan sekolah sehingga mereka bisa dan mau mendukung segala upaya  dalam penegakan disiplin untuk anak-anak mereka.

8.Kasih Sayang
Inilah bumbu penyedap yang harus ditaburkan dalam setiap pendekatan seorang pendidik kepada anak. Kita  sebaiknya berusaha mendekati anak dengan kelembutan. Namun pada saat-saat tertentu, kita juga harus bersikap tegas pada anak-anak tertentu. Sikap tegas berbeda dengan sikap emosional. Yang disebut terakhir ini  harus dihindari. Menyikapi sebuah permasalahan dengan cara yang emosional hampir dapat dipastikan akan gagal dan menghancurkan kewibawaan. Baik sikap lembut maupun tegas  jika didasari dengan kasih sayang dan ketulusan hati akan lebih memberikan hasil yang positif.

9.Rewards
Salah satu sifat manusia adalah senang dipuji. Baik anak kecil maupun orang dewasa senang mendapat pujian baik secara lisan maupun diberi hadiah. Pujian atau hadiah yang diberikan secara proporsional akan memacu semangat yang positif. Jika kita berfokus pada  hal-hal baik yang dilakukan oleh seseorang dan kita mau menunjukkan penghargaan kita kepadanya, maka ia akan berusaha untuk terus melakukan hal-hal baik tersebut. Tapi sebaliknya kalau kita tidak merespon hal baik dan hanya memberikan komentar-komentar negatif maka lama kelamaan ia akan ikut-ikutan memberikan label negatif pada dirinya sendiri dan merasa bahwa ia adalah anak yang tak baik dan ia akan berfokus pada perbuatan perbuatan tak baik yang akan memancing perhatian dan reaksi orang. Penghargaan bisa diberikan secara langsung berupa pujian pada saat  hal-hal baik itu dilakukan (harian) dan bisa juga secara rutin yaitu  berupa hadiah-hadiah kecil  yang diberikan  per minggu (misalnya pada saat upacara atau sejenisnya), atau per  bulan,  atau hadiah yang lebih besar  di akhir semester dan hadiah terbesar pada akhir tahun pelajaran. Dan ini sangat perlu diprogramkan baik untuk siswa maupun untuk guru dan karyawan. Poin ini merupakan poin yang penting sekali dalam penegakan disiplin di lembaga pendidikan.

10. Punishment/Sanksi
Terakhir, Kalau ada reward bagi yang berprestasi atau berakhlaq baik , maka harus juga ada sanksi bagi  yang melanggar tata tertib. Sanksi sebaiknya juga proporsional dan bersifat mendidik agar anak yang bersalah tidak cenderung menganggap enteng perbuatannya, selain itu harus juga disesuaikan dengan pelanggaran yang dilakukan. Misalnya anak yang sering terlambat datang ke kelas bisa diberi sanksi untuk lari dalam jarak tertentu (membiasakan gerak yang lebih cepat). Hukuman terhadap anak yang suka mencoret-coret dinding atau meja kelas adalah membersihkan tempat yang kotor dan juga beberapa tempat lainnya. Ini dimaksudkan agar ia merasakan bahwa segala sesuatu yang bersih adalah hasil kerja orang lain bukan bersih dengan sendirinya.  Ini semua akan mengasah rasa tanggung jawabnya terhadap diri dan lingkungannya. Jangan lupa juga bahwa sanksi tidak hanya berlaku bagi siswa tetapi juga bagi guru dan karyawan yang melanggar peraturan kepegawaian.

 Dari semua faktor yang disebutkan di atas dapat disimpulkan bahwa kesungguhan, ketelatenan dan ketulusan dalam mendidik  menjadi suatu keharusan yang tak bisa ditawar-tawar.Kesimpulan lain adalah pentingnya keikutsertaan banyak pihak, seperti pihak menejemen  sekolah, guru, karyawan, orangtua dan juga para siswa senior atau siswa-siswa yang punya pengaruh khusus. Kalau semua itu bisa dijalankan, insya Allah akan terbentuk suatu pola hidup yang teratur dan kenyamanan yang pada akhirnya mendukung terciptanyalife skills sebagai modal utama keberhasilan dalam hidup anak-anak kita khususnya dan masyarakat serta seluruh ummat, umumnya .
Wallahu A’lam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar